
Kulon Progo (30/8) – Dalam rangka mencetak generasi penerus (generus) profesional religius berkarakter luhur, DPD LDII Kabupaten Kulon Progo kembali menyelenggarakan kegiatan pembinaan generasi muda pada Minggu (30/8). Kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menyongsong generasi emas.
Bertempat di Kompleks DPD LDII Kulon Progo, Giripeni, Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 peserta. Mereka adalah para generus LDII se-Kulon Progo yang duduk di bangku kelas 3 SMP ke atas.
Dewan Penasehat DPD LDII Kulon Progo, Kyai Maridjo Hadi Waluyo mengungkapkan tema kegiatan “Membina Generasi Penerus Profesional Religius yang Sukses di Dunia dan Akhirat, dan Memiliki Karakter Luhur”. “Fokus ini kita pilih, selaras dengan target pembinaan LDII. Tentunya kita semua berharap agar nantinya generus punya karakter luhur. Tidak hanya ahli dalam urusan dunia, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang kuat,” tegas Kyai Maridjo.
Pembinaan generasi muda ini menghadirkan dua pemateri dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII, yakni Ustadz Dian Firdaus dari Kertosono, Jawa Timur, dan Ustadz Mirzam Ahmad dari Sragen. Pembinaan terbukti efektif lantaran kedua pemateri sempat melakukan sesi sharing dengan para pembina generus pada hari sebelumnya. Alhasil, materi yang disampaikan relevan dan tepat sasaran bagi pembentukan karakter remaja di Kulon Progo.
Dalam sesi pertama, Ustadz Dian menekankan pentingnya menjaga pondasi agama sejak usia muda. “Generus harus memiliki dasar akidah yang kuat, yang bersumber dan berlandaskan murni pada Alquran dan Alhadis,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjabarkan tentang Tri Sukses yang wajib dikejar oleh para remaja LDII. “Jika ingin sukses, jadilah pribadi yang berakhlakul karimah, alim faqih, dan juga mandiri,” lanjutnya.
“Satu orang yang paham agama (faqih), itu lebih sulit digoda oleh setan dibandingkan seribu orang hamba yang rajin beribadah namun tidak memiliki kefahaman,” ujar Ustadz Dian, mengutip makna hadis riwayat Ibnu Majah.
Oleh karena itu, ia mendorong peserta agar seimbang dalam menuntut ilmu. “Jangan malas mengaji, terus perjelas ilmu agama. Di saat yang sama, tetap rajin bersekolah dan pelajari keterampilan agar kelak bisa mandiri, diiringi sikap berbakti kepada orang tua,” pesan Ustadz Dian.
Senada dengan hal tersebut, Ustadz Mirzam Ahmad memperdalam materi tentang birrul walidain pada sesi kedua dengan menceritakan kisah Juraij. “Panggilan seorang ibu tidak boleh diremehkan, bahkan ketika kita sedang melaksanakan ibadah sholat sunnah sekalipun,” tutur Ustadz Mirzam mengingatkan peserta.

Selain itu, Ustadz Mirzam menasihati para peserta untuk senantiasa menjaga diri dari pergaulan yang salah. Ia meminta generus tegas menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta menghindari tempat atau hal-hal yang dapat mendekatkan pada perbuatan maksiat.
Sebagai penutup, Ustadz Mirzam membekali peserta dengan sebuah doa perlindungan seperti hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Beliau mengajak peserta selalu memohon kepada Allah agar dijaga dari keburukan.
Doa tersebut berbunyi: “Allahumma inni a’udzubika min syarri sam’i, wa min syarri bashari, wa min syarri lisani, wa min syarri qalbi, wa min syarri maniyyi” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, keburukan penglihatanku, keburukan lisanku, keburukan hatiku, dan keburukan kemaluanku).
DPD LDII KULON PROGO Lembaga Dakwah Islam Indonesia