Kulon Progo, 27 Juni 2025 – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo sukses menyelenggarakan Dialog Kerukunan Umat Beragama 2025 dengan tema Pancasila dan Keagamaan Lintas Budaya. Acara yang berlangsung di Hotel Morazen, Temon Kulon Progo ini dihadiri oleh 32 peserta dari berbagai elemen masyarakat dan organisasi keagamaan di Kabupaten Kulon Progo, menegaskan komitmen untuk memperkuat kerukunan dan moderasi beragama.
Acara yang dibiayai sepenuhnya melalui DIPA Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo Tahun 2025 ini dibuka oleh Plh. Kasubag Tata Usaha Bapak Komaruzaman, S.Ag, M.Si, mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo. Dalam sambutannya, Bapak Komaruzaman menekankan pentingnya forum kerukunan sebagai landasan aktivitas dan peningkatan potensi dalam bingkai persatuan. Beliau juga menyoroti peran penting Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) di Kementerian Agama untuk mendeteksi dan mencegah potensi konflik sosial berdimensi keagamaan. Sistem ini, dengan Satuan Tugas (Satgas) di tiap kapanewon, bertujuan menghasilkan rekomendasi praktik hidup damai dan toleran, serta mencari solusi terbaik untuk kerukunan masyarakat.

Para peserta yang hadir meliputi perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kab. Kulon Progo, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab. Kulon Progo, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Kulon Progo, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kab. Kulon Progo, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kab. Kulon Progo, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kab. Kulon Progo, PC Muslimat Nahdlatul Ulama Kab. Kulon Progo, Vikep Yogyakarta Barat, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Kulon Progo, Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Kab. Kulon Progo, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kab. Kulon Progo, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Kulon Progo, serta para Penyuluh Agama dari berbagai agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu), dan jajaran struktural Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo.
Dialog ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran dalam kerukunan berbudaya, menguatkan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat yang majemuk, dan memperkuat moderasi beragama. Kegiatan ini terbagi dalam tiga sesi materi yang mendalam:
- Sesi 1:Pancasila dan Keagamaan Lintas Budaya disampaikan oleh Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D., Kepala Pusat Studi Pancasila UGM. Beliau memaparkan tiga konsep utama: a) Pengertian Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa dan problematika, b) Konteks “Republica Populi” yang merujuk pada kekuasaan tertinggi di tangan rakyat, dan c) Antisipasi perkembangan IPTEK seperti Artificial Intelligence yang memiliki peran dalam pengambilan keputusan.
- Sesi 2:Membahas Pancasila dan Keagamaan Lintas Budaya, Praktik di Kulon Progo. Sesi ini menegaskan bahwa Indonesia adalah negara republik, di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat atau wakil rakyat melalui pemilihan umum, berbeda dengan bentuk negara monarki. Kulon Progo sebagai bagian dari Republik Indonesia, khususnya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang dipimpin oleh Gubernur dari Raja yang bertahta di Keraton Yogyakarta, menjadi contoh praktik keberagaman.
- Sesi 3:Mengenai Potret Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Indonesia dengan pemateri Samsul Maarif, M.A., dari CRCS UGM. Berdasarkan hasil PPIM UIN Jakarta tahun 2024, terdapat empat indikator KUB yang dibahas, yaitu kesempatan bekerja sama, memberikan bantuan bencana kepada kelompok agama berbeda, apakah perbedaan agama menghalangi kerja sama, dan intensitas kerja sama antaragama dalam isu lingkungan.
Dialog yang berlangsung hingga pukul 15.00 WIB ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya masyarakat Kulon Progo yang lebih rukun, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam keberagaman.
DPD LDII KULON PROGO Lembaga Dakwah Islam Indonesia